Dapatkan Informasi Pendaftaran ONLINE Siswa Baru SMKN 1 XIII Koto Kampar Tahun 2019 di link berikut
PENDAFTARAN ONLINE

Kamu (pelajar) belum ikut mencoblos? Inilah peran yang harus kamu lakukan!

(Img Src: Google Images) 



(www.smkn1-xiiikk.sch.id) Sebentar lagi Indonesia akan melangsungkan pesta demokrasi terpanas sepanjang sejarahnya. Adu isu untuk menyerang kubu satu dengan yang lainnya kian kencang oleh karena cepatnya informasi menyebar. Seperti bencana kebakaran hutan di Riau, pantang puntung rokok dibuang maka bisa menimbulkan bencana kebakaran yang hebat. Begitulah kira-kira penggorengan isu politik saat ini. Sekali tekan tombol SHARE maka akan viral seperti yang saya kutip di  RidhoMk's Blog

Ditengah panasnya politik saat ini kita harus (bukan wajib) mempunyai sesuatu pendingin agar demokrasi di negara kita terjaga hingga proses pilpres dan setelah pilpres nanti. Karena ditakutkan nanti setelah pesta demokrasi selesai kalau tidak ada pendingin dari sekarang, maka mungkin bisa jadi suasana di negara kita tak pernah padam (selalu panas). Mungkin walaupun tidak ada pendingin suasana akan cair seperti biasa namun menunggu cair ketika sudah sangat panas itu juga tidak baik. Jangan sampai kita perang saudara dulu baru kita berdamai. Setelah pilpres nanti maka seharusnya kita semua kembali jadi orang Indonesia seutuhnya. Karena saat ini Indonesia terbagi kedalam tiga kelompok, yaitu Indonesia-Jokowi, Indonesia-Prabowo dan Indonesia-Golput-nya. Setelah 17 April kita semua adalah satu Indonesia. Setuju? OK kalau sudah setuju mari lanjut membaca.

Kita sebagai pelajar (orang yang sedang belajar /sekolah) dan orang yang terpelajar (yang sedang/sudah lulus sekolah) sudah seharusnya manjadi pendingin dalam panasnya demokrasi politik saat ini. Mari kita gabungkan slogan dua capres petahana dan oposisi menjadi 'Indonesia Kerja, pasti Indonesia menang'. Karena jika kamu acuh dan tidak mau ikut dalam berpolitik, maka langkah kamu harus dibelokkan ke arah yang peduli akan politik. Tidak peduli kamu adalah pelajar, mahasiswa, guru, dosen, dewasa, anak-anak yang pastinya ambil peran sesuai dengan kapasitas dan kesanggupan serta kepantasan diri kamu dalam memilih apa yang akan kamu lakukan dalam politik saat ini. Seperti yang disampaikan Ustadz Abdul Somad, jika kita tidak ikut dalam politik maka kelompok kita akan hancur. Orang islam tidak ikut politik, maka akan mudah dikelola oleh orang yang bukan islam. Orang Indonesia sedang melakukan pesta politik dan tidak mau ikut, maka Indonesia akan mudah dikelola bahkan diarahkan kemana arah Indonesia oleh orang luar. Maukah kita jika sesuatu yang milik kita harus dikelola orang lain yang bukan dari kita?

Sesuai judul postingan ini "Kamu (pelajar) belum ikut mencoblos? Inilah peran yang harus kamu lakukan" maka dari itu saya hanya akan sedikit bercerita peran apa saja yang harus diambil oleh seorang pelajar. Baik mari kita simak baik-baik.

1. Jadi filter Informasi HOAX.
Ini sangat wajib. Karena tidak perlu dijelaskan panjang lebarnya tentang HOAX ini. Semua orang di Indonesia saat ini sudah terbiasa mendengar berita tentang HOAX bahkan membuat HOAX itu sendiri. Karena saking seringnya kita bergelut dengan HOAX, sehingga menjadikan kata HOAX ini menjadi sangat populer. Pernyataannya begini, apapun kata yang populer yang kita gunakan berarti suasana dan kejadian itu sedang sangat-sangat panasnya. Dulu kita mungkin hanya mendengar kata PKI hanya sekitar tanggal 30 September saja, saat ini dimana-mana orang membicarakan PKI. Dulu sangat jarang kita mendengar istilah Khilafah, saat ini tidak perlu kita jawab seberapa seringnya keluar kata Khilafah ini. Ini karena saking panasnya suasana saat ini. Dan tidak perlu saya sampaikan kenapa istilah PKI dan Khilafah ini menjadi populer, karena kamu sudah pasti tahu sendiri.

Jadi mulai dari setelah kamu membaca postingan ini, berantaslah apapun yang menjadi HOAX. Jika mendapat informasi maka double-check dulu keaslian informasinya.

2. Kelompok Pengedukasi
Nah, untuk pelajar yang terpelajar harus bisa jadi 'guru' bagi yang tidak tahu tentang politik saat ini. Karena politik saat dahulu beda dengan politik saat ini. Orang tua (biasanya) akan menerima mentah-mentah informasi yang didapat tanpa peduli benar atau tidaknya informasi itu. Jadi marilah kita membenarkan dan mengedukasi orang tua (termasuk orang awam) ini agar tidak ada perpecahan antara kita. Ajarkan apa sikap yang harus diambil, apa yang harus dilakukan jika mendapat ini dan itu. Ajarkan apapun tentang apapun juga karena pemikiran pelajar akan lebih cenderung lebih fresh dari orang tua dan pastinya lebih banyak mengetahui informasi terkini.

3.  Sebarkan cara politik halal.
Inilah yang sangat sulit dihindari. Karena alasan ekonomi, uang bisa membeli segalanya. Padahal harga 200rb-an untuk satu suara itu sebenarnya tidak sebanding dangan apa yang akan kita rasakan untuk beberapa tahun yang akan datang. Ingat slogan kebanyakan orang '5 menit didalam bilik, menentukan nasib 5 tahun kedepan' (walaupun pada faktanya mungkin tidak pernah ada yang sampai 5 menit dalam bilik suara). Hentikan 'politik uang'. Mari halalkan pesta demokrasi kita. Tapi bukan berarti demokrasi kita haram, tapi karena terlalu banyak nya cara haram yang digunakan para politisi saat ini sehingga menyebabkan orang acuh dan seakan tidak peduli politik karena mereka ditontonkan sesuatu yang sangat tidak menarik bagi mereka.

Sebenarnya masih banyak peran yang bisa dilakukan oleh pelajar jika masih belum mencoblos atau yang sudah mencoblos dalam Pemilu kali ini. Namun, jika 3 poin diatas dapat terlaksana dengan baik, insya Allah tidak akan terjadi apa-apa pada negara tercinta ini.

Jadi marilah pelajar (juga pemuda) mengawasi dan membawa pesta demokrasi ini kearah yang lebih baik. 

"jangan buta mata hati karena fanatisme. Yang menjengukmu ketika kemalangan adalah tetangga mu, bukan calon presiden yang kamu pilih" (Dikutip dari meme yang bertebaran di Internet) 


Iklan Atas Artikel

Iklan Bawah Artikel